Cara Menentukan Pesan Utama Brand agar Mudah Diingat Pelanggan

Published 7 min read
Cara Menentukan Pesan Utama Brand agar Mudah Diingat Pelanggan

Pendahuluan

Banyak brand memiliki terlalu banyak hal yang ingin disampaikan. Produk punya banyak fitur, perusahaan punya banyak layanan, tim ingin menjelaskan seluruh keunggulan, dan setiap stakeholder merasa pesannya penting. Akibatnya, komunikasi menjadi penuh tetapi tidak meninggalkan satu hal yang jelas di ingatan pelanggan.

Pesan utama brand bukan berarti brand hanya boleh membicarakan satu hal. Pesan utama adalah ide inti yang menjadi pusat komunikasi, sehingga pesan lain dapat mendukungnya dalam hierarchy yang terstruktur.

Jika positioning menjawab posisi apa yang ingin dimiliki brand, message menjawab bagaimana posisi tersebut diterjemahkan menjadi bahasa yang dapat dipahami audience. Karena itu, menentukan pesan utama sebaiknya tidak dimulai dari brainstorming tagline, tetapi dari keputusan strategis: siapa audience-nya, problem apa yang penting, value apa yang paling relevan, dan bukti apa yang membuatnya kredibel.

Artikel ini membahas cara menentukan core brand message, menyusun message hierarchy, menguji kejelasan, dan menjaga konsistensi agar brand lebih mudah dipahami serta diingat pelanggan.

Apa Itu Pesan Utama Brand?

Pesan utama brand adalah ide paling penting yang ingin brand tanamkan di benak target audience tentang relevansi dan nilai brand.

Pesan ini dapat diekspresikan melalui headline yang berbeda, campaign yang berbeda, atau format content yang berbeda. Yang konsisten bukan selalu kalimatnya, melainkan meaning di baliknya.

Contohnya, sebuah brand dapat memiliki core message “membuat data operasional restoran lebih berguna untuk keputusan bisnis”. Di website pesan itu menjadi value proposition. Di social media menjadi edukasi tentang membaca laporan. Di sales deck menjadi argumentasi tentang visibilitas multi-outlet. Bentuknya berbeda, idenya sama.

Mengapa Brand Sulit Diingat Ketika Semua Pesan Dianggap Sama Penting?

Pelanggan memiliki perhatian terbatas. Mereka jarang membaca seluruh website atau mengikuti setiap campaign. Jika setiap touchpoint menonjolkan hal yang berbeda, mereka tidak mendapat cukup repetisi untuk membentuk asosiasi.

Masalah umum:

  • homepage memiliki lima value proposition dengan bobot sama;
  • social media mengejar banyak topik yang tidak terhubung;
  • sales menggunakan pesan berbeda dari marketing;
  • campaign baru selalu mengganti tema utama;
  • brand menjelaskan fitur sebelum menjelaskan problem;
  • terlalu banyak jargon internal.

Message hierarchy membantu menyelesaikan masalah tersebut dengan menentukan prioritas.

Langkah 1: Mulai dari Audience, Bukan dari Kata-kata

Pesan yang kuat terasa relevan karena berbicara pada problem atau aspirasi yang dikenali audience.

Kumpulkan insight dari sumber nyata yang tersedia:

  • customer interview;
  • pertanyaan sales;
  • objections;
  • customer service;
  • search query;
  • review;
  • form inquiry;
  • analytics pada halaman produk;
  • percakapan onboarding.

Cari bahasa yang digunakan pelanggan, bukan hanya istilah internal perusahaan.

Pertanyaan kunci:

  • masalah apa yang membuat mereka mulai mencari solusi?
  • hasil apa yang mereka inginkan?
  • apa yang membuat mereka ragu?
  • apa yang mereka bandingkan?
  • kata apa yang mereka gunakan untuk menjelaskan kebutuhan?

Langkah 2: Tentukan Satu Core Value yang Paling Strategis

Brand mungkin menawarkan banyak manfaat. Namun core message membutuhkan prioritas.

Gunakan tiga kriteria:

  1. relevance – penting bagi target audience;
  2. differentiation – membantu brand memiliki posisi yang cukup jelas;
  3. credibility – dapat dibuktikan oleh produk, service, atau kapabilitas.

Value yang memenuhi ketiganya lebih layak menjadi pusat pesan daripada manfaat yang menarik tetapi sulit dipercaya atau terlalu generik.

Langkah 3: Hubungkan Value dengan Problem yang Jelas

Pesan menjadi lebih kuat ketika audience dapat memahami konteksnya.

Bandingkan:

“Platform terintegrasi untuk bisnis modern.”

Dengan:

“Satukan data penjualan, inventory, dan keuangan agar operator multi-outlet tidak mengambil keputusan dari laporan yang terpisah.”

Kalimat kedua lebih panjang, tetapi memiliki audience, problem, mekanisme, dan outcome yang lebih jelas. Copy final masih dapat dipadatkan, tetapi fondasi pesannya lebih kuat.

Langkah 4: Susun Message Hierarchy

Struktur sederhana dapat terdiri dari empat lapisan.

Core message

Satu ide utama yang ingin dimiliki brand.

Supporting messages

Dua hingga empat argumen yang menjelaskan bagaimana brand memberikan value.

Proof points

Bukti yang mendukung: fitur, proses, data internal yang valid, portfolio, case study nyata, sertifikasi, atau demonstrasi.

CTA

Tindakan berikutnya yang relevan dengan tahap customer journey.

Hierarchy ini membantu website, campaign, sales, content, dan social media berbicara dari fondasi yang sama tanpa harus menggunakan copy yang identik.

Langkah 5: Ubah Fitur Menjadi Makna

Salah satu alasan pesan sulit diingat adalah komunikasi berhenti pada fitur.

Gunakan rantai:

Fitur → fungsi → manfaat → outcome → makna bagi audience

Contoh hipotetis:

  • fitur: dashboard multi-outlet;
  • fungsi: menggabungkan data beberapa lokasi;
  • manfaat: manajemen tidak perlu mengecek laporan satu per satu;
  • outcome: anomali lebih cepat terlihat;
  • makna: owner memiliki visibilitas untuk mengambil keputusan tanpa tenggelam dalam data.

Tidak semua copy perlu mencapai level outcome, tetapi brand perlu mengetahui hubungan tersebut agar pesan tidak menjadi daftar fitur.

Langkah 6: Pilih Bahasa yang Spesifik

Pesan utama tidak harus kreatif. Pertama-tama, ia harus jelas.

Hindari kata abstrak jika dapat diganti dengan bahasa konkret.

Daripada:

  • solusi inovatif;
  • pengalaman terbaik;
  • partner terpercaya;
  • layanan end-to-end;

jelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

“End-to-end” dapat berarti strategi, produksi, distribusi, dan reporting berada dalam satu tim. “Terpercaya” dapat diterjemahkan melalui transparansi proses, approval, atau track record yang benar-benar tersedia.

Langkah 7: Uji dengan Lima Pertanyaan

Sebelum mengunci pesan, tanyakan:

Apakah audience tahu ini untuk siapa?

Pesan tidak harus selalu menyebut target secara eksplisit, tetapi konteksnya perlu terasa relevan.

Apakah jelas problem atau value-nya?

Audience perlu memahami mengapa mereka harus peduli.

Apakah kompetitor bisa menggunakan kalimat yang sama?

Jika ya, pesan mungkin perlu detail yang lebih spesifik.

Apakah ada bukti?

Pesan yang tidak dapat dibuktikan menjadi janji kosong.

Apakah dapat diulang tanpa menjadi monoton?

Core idea yang kuat dapat diterjemahkan ke banyak bentuk content.

Cara Membuat Pesan Mudah Diingat tanpa Memaksakan Tagline

Memorability tidak datang hanya dari permainan kata. Ada beberapa faktor yang membantu:

  • satu ide inti;
  • struktur sederhana;
  • bahasa konkret;
  • repetisi konsisten;
  • distinctive phrasing jika natural;
  • visual cue yang mendukung;
  • proof yang berulang;
  • hubungan dengan situasi pelanggan.

Tagline dapat membantu, tetapi jangan menjadikannya titik awal. Brand dengan tagline bagus namun message hierarchy lemah tetap akan menghasilkan komunikasi yang terfragmentasi.

Contoh Message Architecture Sederhana

Misalnya sebuah agency memutuskan core message:

“Membuat brand lebih jelas sebelum membuatnya lebih ramai.”

Supporting messages:

  • positioning sebelum produksi konten;
  • message hierarchy sebelum campaign;
  • sistem visual sebelum scaling channel;
  • reporting untuk memastikan komunikasi tetap relevan.

Proof points harus berasal dari kapabilitas nyata agency: framework, workflow, deliverables, atau portfolio yang dapat ditunjukkan.

Dari satu core message, agency dapat membuat artikel, carousel, video, sales deck, dan landing page dengan topik berbeda tetapi tetap membangun asosiasi yang sama.

Cara Menerapkan Core Message di Berbagai Channel

Kesalahan lain adalah menganggap konsistensi berarti menyalin headline yang sama di semua tempat. Yang perlu konsisten adalah message architecture, sementara depth dan format dapat menyesuaikan konteks.

Homepage

Gunakan versi paling ringkas: audience harus cepat menangkap problem, value, dan alasan untuk percaya.

Landing page

Persempit pesan sesuai use case, segment, atau offer. Core message tetap menjadi payung, tetapi supporting proof dapat lebih spesifik.

Social media

Uraikan core idea melalui topik yang berulang. Jika brand ingin dikenal karena “clarity before activity”, konten dapat membahas positioning, message, channel role, dan measurement.

Sales deck

Tambahkan konteks buying problem, proof, objection handling, dan perbandingan dengan alternative. Sales tidak perlu membuat narasi baru jika marketing sudah memiliki message hierarchy yang kuat.

Customer communication

Pastikan janji brand tetap terasa setelah pembelian. Jika brand menjanjikan simplicity, onboarding dan support juga harus menggunakan bahasa serta flow yang sederhana.

Cara Menguji Pesan Sebelum Dipakai Secara Luas

Sebelum mengganti seluruh website, pesan dapat diuji dalam skala kecil.

Gunakan beberapa cara yang sesuai kemampuan tim:

  • interview pelanggan atau prospect;
  • usability test pada landing page;
  • sales conversation;
  • email subject dan body variation;
  • ad copy experiment;
  • feedback dari customer-facing team.

Tujuannya bukan mencari kalimat yang “paling disukai”, melainkan melihat apakah audience memahami hal yang ingin disampaikan. Pertanyaan uji yang berguna: “Menurut Anda perusahaan ini membantu siapa?”, “Masalah apa yang mereka selesaikan?”, dan “Apa yang membedakan mereka?”

Jika jawaban audience sangat jauh dari intention, perbaiki clarity sebelum menambah kreativitas.

Kesalahan Umum dalam Menentukan Pesan Brand

Menyamakan pesan dengan slogan

Slogan dapat singkat dan emosional. Pesan utama perlu memiliki makna strategis yang jelas.

Memasukkan semua keunggulan dalam satu kalimat

Hasilnya sering panjang dan sulit diproses. Gunakan hierarchy.

Terlalu sering mengganti core message

Campaign boleh berganti. Core message sebaiknya cukup stabil untuk membangun asosiasi.

Menggunakan bahasa internal

Istilah yang familiar bagi perusahaan belum tentu familiar bagi pelanggan.

Mengejar keunikan sebelum kejelasan

Kalimat yang sangat kreatif tetapi membutuhkan penjelasan panjang dapat gagal menjalankan fungsi komunikasi.

Kesimpulan

Pesan utama brand yang mudah diingat bukan hasil mencari kalimat paling pintar. Ia berasal dari keputusan yang jelas tentang audience, problem, value, differentiation, dan proof.

Ketika semua manfaat dianggap sama penting, komunikasi menjadi penuh tetapi sulit meninggalkan kesan. Message hierarchy membantu brand menentukan satu core idea, beberapa supporting messages, bukti, dan CTA yang dapat digunakan secara konsisten lintas channel.

Prinsip pentingnya adalah repetisi pada makna, variasi pada ekspresi. Brand tidak perlu mengulang kalimat yang sama di setiap tempat, tetapi audience seharusnya menerima ide inti yang konsisten.

Dengan fondasi tersebut, website, content, campaign, sales deck, dan customer communication tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Semua touchpoint membantu membangun asosiasi yang sama. Itulah yang membuat sebuah pesan bukan hanya terdengar baik, tetapi perlahan menjadi sesuatu yang benar-benar diingat pelanggan.

Got an idea that needs moving?

Chat on WhatsApp